Ajaran-Ajaran Presiden
Pemanggilan Ilahi Nabi Joseph Smith


Bab 10

Pemanggilan Ilahi Nabi Joseph Smith

Saya memiliki kesaksian yang teguh bahwa Bapa dan Putra menampakkan diri kepada Nabi Joseph Smith serta mewahyukan melalui dia Injil Yesus Kristus, yang sesungguhnya, merupakan “kekuatan Allah yang menyelamatkan” [Roma 1:16].1

Pendahuluan

Presiden David O. McKay mengatakan, “Sejak masa kanak-kanak sangat mudah bagi saya untuk mempercayai tentang kenyataan penglihatan Nabi Joseph Smith.”2 Dia mengatakan bahwa kesaksiannya mengenai Nabi Joseph Smith dikuatkan ketika dia mendengar sebuah pengalaman yang dimiliki oleh ayahnya sebagai misionari di Skotlandia.

“Ketika [ayah saya] mulai berkhotbah di kampung halamannya dan memberikan kesaksian mengenai pemulihan Injil Yesus Kristus, dia memperhatikan bahwa orang-orang mulai meninggalkannya. Mereka mencibir di dalam hati terhadap apa pun [yang berhubungan dengan Gereja], dan nama Joseph Smith sepertinya membangkitkan amarah di dalam hati mereka. Suatu hari dia menyimpulkan bahwa cara terbaik untuk mendekati orang-orang tersebut adalah dengan mengkhotbahkan asas-asas sederhana, Kurban Tebusan Tuhan Yesus Kristus, asas-asas utama Injil, dan tidak memberikan kesaksian mengenai pemulihan. Dalam satu atau dua bulan dia merasa tertekan dengan perasaan sedih, kecewa, dan dia tidak memperoleh semangat dalam pekerjaannya. Dia benar-benar tidak tahu apa masalahnya, tetapi pikirannya menjadi terganggu; semangatnya menjadi turun; dia tertekan serta tidak berdaya; dan perasaan kecewa itu terus berlanjut sampai membuatnya patah semangat karena begitu berat bebannya sehingga dia pergi kepada Tuhan serta mengatakan, ‘Kecuali saya dapat menghilangkan perasaan ini, saya harus pulang. Saya tidak dapat meneruskan pekerjaan saya yang terhalangi.’

Keputusasaan terus berlanjut selama beberapa saat setelah itu, ketika, suatu pagi sebelum matahari terbit, setelah tidak dapat tidur malam itu, dia memutuskan untuk beristirahat di sebuah gua, dekat pantai, dimana dia tahu dia akan dijauhkan dari dunia sepenuhnya, dan sana di mencurahkan jiwanya kepada Allah serta menanyakan mengapa dia terganggu dengan perasaan ini, apa yang harus dia lakukan, dan apa yang dapat dia lakukan untuk membuang perasaan itu serta meneruskan pekerjaannya. Dia mulai berjalan dalam kegelapan menuju gua itu. Dia ingin sekali cepat sampai di gua sehingga dia mulai berlari. Sementara meninggalkan kota, dia dipanggil oleh polisi yang ingin mengetahui apa yang terjadi. Dia memberikan jawaban yang tidak jelas tetapi memuaskan dan dibiarkan pergi. Sesuatu seolah mendorongnya; dia harus mendapat kelegaan. Dia masuk ke dalam gua atau celah yang terlindung, lalu me- ngatakan, ‘Oh, Bapa, apa yang dapat saya lakukan untuk menghilangkan perasaan ini? Saya harus menghilangkannya atau saya tidak dapat meneruskan pekerjaan ini’; dan dia mendengar sebuah suara, sejelas seperti suara yang sekarang saya ucapkan, mengatakan, ‘Berikan kesaksian bahwa Joseph Smith adalah Nabi Allah.’ Kemudian mengingat apa yang secara diam-diam telah dia putuskan enam minggu atau lebih sebelumnya, dan menjadi terbebani dengan pikiran itu, semua hal datang kepadanya dalam suatu kenyataan bahwa dia berada di sana untuk sebuah misi khusus, dan dia tidak memberikan perhatian khusus terhadap misi yang telah dipersiapkan itu. Lalu dia berseru di dalam hatinya, ‘Tuhan, sudah cukup,’ serta keluar dari gua itu.”

Presiden McKay mengenang, “Sebagai anak yang masih muda, saya duduk dan mendengarkan kesaksian itu dari seseorang yang saya hargai dan hormati seperti yang Anda sendiri ketahui tidak ada orang lain di dunia ini yang saya hargai seperti itu, serta keyakinan itu tertanam dalam jiwa masa muda saya.”3

Ajaran-ajaran David O. McKay

Penglihatan Pertama Joseph Smith mewahyukan kebenaran-kebenaran mulia mengenai Allah Bapa dan Yesus Kristus.

Sedemikian pesat dan pentingnya penemuan-penemuan hebat pada akhir abad pertengahan [kesembilan belas] sehingga membuat kita kewalahan …. Tetapi tidak satu pun di antara penemuan itu yang menjawab kebutuhan terbesar dan keinginan yang paling didambakan manusia. Tidak satu pun yang mengungkapkan apa yang telah dicari manusia selama berabad-abad. Kebutuhan itu—yang pernah didambakan di dalam hati manusia—adalah untuk mengetahui Allah, dan hubungan manusia dengan-Nya …. Hanya satu peristiwa pada abad kesembilan belas yang mengaku memberi kepada jiwa manusia jawaban ini. Jika dalam peristiwa itu manusia menemukan kebenaran yang selama ini dicari-cari ras umat manusia, maka peristiwa itu benar-benar pantas menerima penghargaan istimewa sebagai peristiwa terbesar dalam abad kesembilan belas ini!

Peristiwa itu adalah penampakan dua Makhluk surgawi kepada Nabi muda Joseph Smith, yang mengungkapkan jati diri secara berturut-turut, yaitu Allah Bapa yang Kekal serta Putra-Nya Yesus Kristus.4

Seribu delapan ratus tahun setelah Yesus mati di atas kayu salib, Nabi Joseph Smith menyatakan bahwa Tuhan yang telah bangkit menampakkan diri kepadanya. [Dia mengatakan], “… Aku melihat dua Orang yang terang dan kemuliaan-Nya tidak dapat dilukiskan, yang berdiri di atas diriku di udara. Salah seorang dari Mereka berkata kepadaku, dengan memanggil namaku dan mengatakan sambil menunjuk kepada yang lain—Inilah Putra-Ku yang Kukasihi. Dengarkanlah Dia!” [Joseph Smith 2:17].5

Pernyataannya sederhana tetapi positif; dan dia terkejut ketika orang-orang meragukan kebenarannya. Baginya pernyataannya merupakan pernyataan dari sebuah fakta sederhana; bagi dunia Kristen itu terbukti menjadi cahaya terang yang menyerang dan melemahkan struktur agama mereka dari atas hingga bawah.

Dua unsur penting dalam pesan pertamanya yaitu: pertama, bahwa Allah adalah Makhluk pribadi, yang menyatakan kehendak-Nya kepada manusia; dan kedua, bahwa tidak ada pernyataan kepercayaan dalam dunia Kristen yang memiliki rencana keselamatan yang sebenarnya.6

Penampakan Bapa dan Putra kepada Joseph Smith adalah dasar dari Gereja ini. Di dalamnya terdapat rahasia kekuatan dan tenaganya. Ini benar, dan saya memberikan kesaksian mengenai hal itu. Bahwa satu wahyu menjawab semua pertanyaan ilmu pengetahuan mengenai Allah dan sosok Ilahi-Nya. Tidakkah Anda melihat apa itu artinya? Siapa Allah itu, telah terjawab. Hubungan-Nya dengan anak-anak-Nya sudah jelas. Minat-Nya terhadap kemanusiaan melalui wewenang yang didelegasikan kepada manusia telah jelas. Masa depan pekerjaan telah pasti. Kebenaran ini dan kebenaran-kebenaran lainnya yang mulia dijelaskan melalui penglihatan pertama yang agung tersebut.7

Dunia masih tidak memahami pentingnya hal itu; tetapi sebagai faktor pendukung terhadap pengetahuan manusia tentang hubungannya dengan Tuhan dan tempatnya di alam semesta ini; sebagai alat membangun hubungan yang benar antara manusia sebagai individu dan kelompok-kelompok manusia sebagai bangsa; sebagai wahyu yang menunjukkan jalan menuju kebahagiaan dan kedamaian manusia di bumi juga dalam kekekalan yang akan datang, penampakan Bapa serta Putra kepada Joseph Smith dan kemudian pemulihan imamat serta pendirian Gereja Yesus Kristus dalam kegenapannya, masih belum dikenali bukan hanya sebagai peristiwa terbesar pada abad kesembilan belas, tetapi sebagai salah satu peristiwa terbesar di segala abad.8

Tuhan memulihkan kebenaran-kebenaran Injil melalui Nabi Joseph Smith.

Ini tentang Joseph Smith yang bukan saja sebagai orang hebat, tetapi sebagai hamba yang diilhami Tuhan sehingga saya ingin membicarakannya …. Memang, kebesaran Joseph Smith tercapai karena ilham Ilahi ….

Tidak seorang pun dapat mempelajari secara serius dan cerdas Injil Yesus Kristus yang dipulihkan tanpa benar-benar terkesan dengan keselarasan ajaran-ajaran yang diberikan oleh Tuhan dan Juruselamat Sendiri ketika Dia hidup di bumi bersama para murid-Nya. Pikirkan, misalnya, wahyu Nabi mengenai sang Pencipta—Allah sebagai Makhluk yang cerdas, seseorang yang adalah, sebagaimana Yesus mengajarkan “Bapa kami yang di surga” [lihat Matius 6:9] ….

Ajaran Joseph Smith bahwa Yesus Kristus adalah Putra Tunggal Bapa, Juruselamat dunia, sama dengan ajaran-ajaran Yesus Sendiri dan para rasul-Nya.

Demikian juga ajarannya mengenai berlanjutnya kehidupan orang setelah kematian ….

Keselarasan yang sama terdapat dalam ajaran-ajaran tentang asas-asas Injil seperti iman, pertobatan, pembaptisan, penumpangan tangan untuk karunia Roh Kudus, penahbisan kepada imamat, ajaran-ajaran-Nya mengenai “pengetahuan, penguasaan diri, kesederhanaan, kasih persaudaraan, kasih sayang,” dan sebagainya [lihat 2 Petrus 1:5–7; A&P 4–6] ….

… Orang-orang yang mendukung pembaptisan bayi mengajarkan mengenai anak-anak kecil demikian: “Bayi yang dilahirkan ke dunia ini tidak saja sama sekali tak memiliki pengetahuan, kebajikan, maupun kekudusan, tetapi memiliki kecenderungan alami untuk bersikap jahat dan hanya kejahatan.”

… Dengan berani dan tanpa gentar, serta berbicara sebagai orang yang memiliki keyakinan bahwa dia benar, Nabi Joseph mengatakan, “Anak-anak kecil adalah suci, karena dipersucikan melalui penebusan Yesus Kristus” [lihat A&P 74:7].9

Ilham Ilahi ditunjukkan … dalam pernyataan mulia [Joseph Smith] mengenai sifat kekal perjanjian-perjanjian dan upacara-upacara serta kesempatan keselamatan bagi setiap umat manusia. Gereja tidak eksklusif tetapi semuanya terbuka untuk setiap jiwa yang mau menerima asas-asasnya …. Seluruh umat manusia akan diselamatkan melalui kepatuhan terhadap hukum-hukum serta tata cara-tata cara Injil. Bahkan mereka yang telah meninggal tanpa mengetahui hukum akan diadili tanpa hukum. Pada tahap akhir ini tata cara keselamatan bagi orang-orang yang telah meninggal diwahyukan.

Kekekalan perjanjian pernikahan adalah wahyu mulia, yang memberi kepastian pada hati yang dipersatukan melalui ikatan kasih dan dimeteraikan melalui wewenang imamat kudus agar persatuan mereka kekal.

Perjanjian-perjanjian lainnya juga terus berlanjut dengan kemajuan kekal sepanjang masa kekekalan.

Joseph Smith tidak dapat memperoleh semua ini dengan kebijaksanaan, kecerdasan, dan pengaruhnya sendiri. Dia tidak dapat melakukan hal itu.10

Tuhan telah mewahyukan pada masa ini Rencana Keselamatan, yang tidak lain adalah jalan menuju dunia rohani dengan membangun karakter yang layak untuk masuk ke dalam kerajaan-Nya. Rencana itu adalah Injil Yesus Kristus sebagaimana dipulihkan kepada Nabi Joseph Smith, dan Injil itu sempurna serta lengkap.11

Gereja Yesus Kristus yang dipulihkan adalah bukti dari ilham Ilahi Joseph Smith.

Kira-kira tahun 1820, kehebohan agama menuntun Joseph Smith untuk mencari gereja yang benar, cara beribadat yang benar, cara yang baik untuk hidup. Keingintahuan itu mendorong pemuda ini mencari Tuhan dalam doa yang sungguh-sungguh. Satu hasil dari jawaban doanya adalah pengorganisasian Gereja di rumah Peter Whitmer pada … tanggal 6 April 1830. Dalam organisasi itu dapat ditemukan pemahaman sepenuhnya tentang rencana keselamatan manusia.

Sekarang saya ingin menganggap organisasi itu sebagai satu bukti akan ilham-Nya …. [Organisasi itu] telah selamat dari kepanikan keuangan, pergolakan sosial, serta kebingungan agama; dan dewasa ini berdiri sebagai wadah dalam menyediakan kebutuhan tertinggi umat manusia ….

… “Gereja Yesus Kristus diorganisasi sesuai dengan tata tertib Gereja sebagaimana dicatat dalam Perjanjian Baru,” tutur Joseph Smith [lihat History of the Church, 1:79]. Cara kerja yang praktis dan bersifat sukarela dari organisasi ini membuktikan kebenaran Ilahinya.12

Bertahun-tahun yang silam Joseph Smith, seorang pemuda berusia kira-kira empat belas atau lima belasan tahun, menyatakan bahwa, sebagai jawaban atas doa, dia menerima sebuah wahyu dari Allah …. Akibat pernyataannya ini adalah pengucilan dirinya dari dunia keagamaan. Dalam waktu singkat dia mendapati dirinya berada sendirian.

Sendirian—dan tidak mengenal pengetahuan maupun filsafat di zamannya!

Sendirian—dan tidak terdidik dalam bidang seni maupun ilmu pengetahuan!

Sendirian—tanpa adanya ahli filsafat yang mengajarnya, tanpa pendeta yang membimbingnya! Dalam kesederhanaan dan kelembutan dengan cepat dia menyampaikan kepada mereka pesannya yang mulia; dalam cemoohan serta celaan mereka menolaknya sambil mengatakan bahwa itu semua berasal dari iblis; bahwa tidak ada lagi hal-hal seperti penglihatan atau wahyu di zaman akhir ini; bahwa semua hal seperti itu telah berakhir bersama para rasul; dan bahwa hal-hal yang demikian itu tidak akan ada lagi [lihat Joseph Smith 2:21].

Demikianlah dia ditinggalkan sendirian untuk memulai perjalanan keagamaannya, meskipun tahu bahwa semua agama yang ada tidak benar tetapi dia tidak pernah berniat mendirikan satu agama pun. Sesungguhnya jika dia seorang penipu, agama yang dapat dia dirikan kemungkinan adalah agama yang sederhana.

Sebaliknya, jika agama yang dia dirikan memiliki keunggulan dan kehebatan melebihi ilmu yang diberikan oleh para profesor serta ahli filsafat kepada dunia selama ratusan tahun sebelumnya, maka setidaknya orang akan terpaksa, untuk mengatakan dengan takjub, dari manakah diperolehnya hikmat itu!

Nyatanya, kemudian, bahwa meskipun seolah dia sendirian, dia sendirian seperti halnya Musa di Sinai; seperti halnya Yesus di Bukit Zaitun. Sebagaimana dengan Tuhan, demikian pula dengan Nabi, petunjuk-petunjuknya datang bukan melalui jalur yang dibuat manusia tetapi langsung dari Allah, yang merupakan sumber segala kecerdasan. Dia mengatakan, “Saya adalah batu mentah. Suara palu dan pahat tidak pernah saya dengar lagi sampai Tuhan menguasai saya. Saya menginginkan pengetahuan dan kebijaksanaan surgawi” [History of the Church, 5:423] ….

Pernyataannya tentang wahyu dari Allah, jika dikenali, tidak meninggalkan keraguan sedikit pun seperti halnya dengan wewenangnya untuk mengorganisasi Gereja Yesus Kristus di atas bumi, dan melaksanakan asas-asas serta tata cara-tata cara dengan wewenang. Jadi sejak permulaan zaman akhir yang hebat ini pekerjaan diletakkan pada batu penjuru Gereja Kristus yang tidak tergoyahkan pada masa kelegaan ini, [yaitu], wewenang untuk bertindak dalam nama Yesus Kristus dalam hal-hal yang berkaitan dengan Gereja-Nya.13

Ketika kita memikirkan prestasi-prestasi luar biasa [Joseph Smith] selama rentang waktu singkat empat belas tahun antara pengorganisasian Gereja dengan kemartirannya; ketika kita memikirkan keselarasan sempurna Injil yang dipulihkan dengan gereja awal yang didirikan oleh Yesus dan para Rasul-Nya; ketika kita memperhatikan wawasannya yang tajam terhadap asas-asas serta tata cara-tata cara; dan ketika kita melihat rencana serta efisiensi Gereja yang tidak tertandingi yang didirikan dengan ilham dari Kristus dan menyandang nama-Nya—jawaban terhadap pertanyaan, dari mana diperolehnya hikmat itu? diberikan dalam lirik yang menggetarkan jiwa:

Puji dia yang tinggal dengan Yehova!

Yesus pun telah mengurapinya,

Nabi, Pelihat, pembuka zaman akhir,

Raja dan bangsa ‘kan memujanya

[lihat Nyanyian Rohani, no. 14].

Nabi Joseph hidup dan mati dalam mempertahankan kebenaran yang diwahyukan kepadanya.

Orang-orang hebat memiliki kemampuan untuk melihat dengan jelas ke dalam inti segala sesuatu. Mereka memperbedakan kebenaran. Mereka berpikir secara bebas. Mereka bertindak dengan mulia. Mereka mempengaruhi orang-orang kuat untuk mengikuti mereka. Orang-orang rendahan mencemooh, mengejek, menganiaya mereka, tetapi kecaman itu mati serta terlupakan, dan orang hebat itu hidup selama-lamanya.

Beberapa teman Joseph Smith mencemoohnya; yang lain mengaguminya; para pengikutnya menghormatinya ….

Tidak seorang pun di antara orang-orang yang tidak berprasangka terhadap pendapatnya dapat mempelajari kehidupan pemimpin yang taat beragama ini tanpa terkesan dengan kenyataan bahwa dia memiliki sifat-sifat kebajikan pada tingkat yang luar biasa, sumber yang ditemukan dalam keinginan untuk mengetahui kehendak Allah, dan dalam suatu keputusan, bila ditemukan, untuk mengikutinya.15

Sepanjang segala zaman kebenaran pertama kali dipahami oleh beberapa pemimpin pemberani yang, dalam mempertahankan kebenaran itu, sering kali mengurbankan nyawa mereka. Kemajuan umat manusia disebabkan oleh pemahaman yang jelas dan keberanian dari para pemimpin yang pemberani tersebut. Pada saatnya kelak, mereka harus membuat pilihan apakah mengingkari, mengubah, atau mempertahankan kebenaran—sebuah pilihan antara kenyamanan pribadi dan perlakuan istimewa, atau pengasingan dari masyarakat, hukuman, atau bahkan kematian. Pilihan semacam itu terjadi pada diri Petrus dan Yohanes ketika mereka menjadi tawanan di hadapan Hanas, sang imam besar. Dibutuhkan keberanian yang sesungguhnya dari mereka untuk memberikan kesaksian tentang Kristus di hadapan orang penting yang memberinya hukuman mati [lihat Kisah para Rasul 4].

Dibutuhkan keberanian bagi Paulus, tawanan yang dirantai di hadapan Raja Agripa dan tamu-tamunya yang mulia, untuk memberikan kesaksian bahwa Kristus telah menderita, dan bahwa Dia akan menjadi orang pertama yang akan bangkit dari kematian, dan akan memperlihatkan terang kepada semua orang, dan kepada bangsa Yahudi [lihat Kisah para Rasul 26].

Dibutuhkan keberanian bagi Joseph Smith untuk bersaksi kepada orang-orang yang tidak percaya dan dunia yang jahat tentang kebenaran bahwa Allah serta Putra Tunggal-Nya telah menampakkan diri dalam penglihatan kepadanya.16

Semua orang yang telah mengubah keadaan-keadaan di dunia ini adalah orang-orang yang setia terhadap tekad mereka—misalnya seperti Petrus, Yakobus, dan Yohanes, serta rekan-rekan mereka yaitu para rasul zaman dahulu, dan juga yang lainnya. Ketika para pemimpin agama di Palmyra, New York menentang pemuda Joseph Smith terhadap apa yang telah dilihat serta didengarnya di Hutan Kudus, dia mengatakan, dengan kesaksian tentang Tuhan Yesus di dalam hatinya, “Aku telah melihat sebuah penglihatan; aku mengetahuinya, dan aku tahu bahwa Allah pun mengetahuinya, dan aku tidak dapat ataupun berani menyangkalnya ….” [Joseph Smith 2:25].

Joseph Smith setia terhadap kesaksiannya sampai akhir.17

Hasil dari bimbingan Ilahi [Joseph Smith] adalah sebuah kepastian kebenaran terhadap apa yang diajarkannya dan keberanian dalam mengkhotbahkannya. Ketika Joseph Smith mengajarkan sebuah asas, dia mengajarkannya dengan wewenang. Pertanyaannya bukanlah pertanyaan apakah ajaran itu sesuai dengan pemikiran manusia atau tidak, apakah selaras dengan ajaran-ajaran dari gereja-gereja ortodok atau apakah bertolak belakang. Apa yang diberikan kepadanya dia berikan kepada dunia terlepas apakah mereka menyetujui atau menentangnya, apakah sesuai atau tidak sesuai dengan kepercayaan dari gereja-gereja lain, atau standar-standar yang berlaku di antara umat manusia; dan saat ini, ketika kita melihat ke dalam sejarah lebih dari seratus tahun, kita memiliki kesempatan yang baik untuk menilai kebenaran ajaran-ajarannya, dan menarik kesimpulan terhadap sumber petunjuknya ….

Dia tidak saja menerima bimbingan dan petunjuk dari Tuhan, tetapi, sekali menerimanya, mempertahankannya dengan tekad yang tidak tergoyahkan.18

Melalui hinaan, cemoohan, penyerangan, penangkapan, pemenjaraan, penganiayaan yang menuntun pada kemartiran, Joseph Smith seperti halnya Petrus dan Paulus sebelum dia, terus berusaha sekuat tenaga untuk mengikuti terang yang telah menjadikannya “pengambil bagian dalam kodrat Ilahi” [lihat 2 Petrus 1:4].

Darah terbaik negara ini telah ditumpahkan dalam ketidakberdosaan. [Nabi Joseph] tahu dia tidak berdosa. Dia tahu hak-haknya. Demikian juga saudara lelakinya Hyrum, John Taylor, serta Willard Richards yang berada di sana bersamanya. Tetapi karena kebohongan, kejahatan, dan kesesatan, Nabi Joseph Smith serta saudara lelakinya, Hyrum, martir.

… Di tengah-tengah semuanya itu bagaimana sikap Nabi? Tenang, seperti sikap Kristus. Dia mengatakan, ketika dia akan pergi ke Carthage malam itu:

“Aku pergi seperti anak domba ke pembantaian tetapi aku tenang seperti pagi hari pada musim panas, aku sama sekali tidak merasa sakit hati terhadap Allah, dan terhadap semua orang. Aku akan mati tak berdosa, dan tentang aku akan dikatakan: Dia dibunuh dengan darah dingin” [lihat A&P 135:4].20

Nyawa Nabi, saudara lelakinya, Hyrum, bapa bangsa, dan nyawa ratusan ribu lainnya yang telah menerima kebenaran [Penglihatan Pertama] memberi bukti bahwa rencana keselamatan, sebagaimana Yesus Kristus telah mewahyukannya, secara meyakinkan menuntun pada karakter yang menyerupai Kristus. Sedemikian nyatanya wahyu kepada Nabi dan saudara lelakinya itu, Hyrum, sehingga mereka tanpa ragu memeteraikan kesaksian mereka dengan darah mereka.21

Saran Belajar dan Pembahasan

  • Presiden McKay menceritakan sebuah pengalaman yang dimiliki ayahnya saat menjalankan misinya mengenai perlunya bersaksi tentang Joseph Smith (lihat hlm. 107–109). Mengapa jawaban yang diterima ayahnya penting bagi kita sekarang ini?

  • Mengapa penting bagi Tuhan untuk memanggil seorang nabi di zaman akhir? (lihat hlm. 110–111). Mengapa kesaksian tentang Joseph Smith merupakan bagian penting dari kesaksian mengenai Injil? Dengan cara apakah penampakan Bapa dan Putra kepada Joseph Smith menjadi “dasar dari Gereja ini”?

  • Apakah beberapa kebenaran yang diwahyukan melalui Penglihatan Pertama? (lihat hlm. 110–111). Dengan cara-cara apakah pengetahuan Anda tentang Penglihatan Pertama telah mempengaruhi kesaksian Anda terhadap Bapa Surgawi dan Yesus Kristus?

  • Apakah beberapa ajaran lain yang Tuhan wahyukan melalui Nabi Joseph Smith? (lihat hlm. 111–113). Bagaimana Anda telah diberkati ketika Anda mempelajari dan menerapkan ajaran-ajaran tersebut?

  • Dengan cara-cara apakah Gereja dan ajaran-ajarannya menjadi kesaksian bahwa Joseph Smith adalah Nabi Allah? (lihat hlm. 113–116).

  • Apakah beberapa sifat seperti Kristus yang ditunjukkan oleh Nabi Joseph Smith? (lihat hlm. 116–119). Apakah yang dapat Anda lakukan untuk mengikuti teladannya?

  • Apakah tanggung jawab yang kita miliki ketika kita memiliki kesaksian mengenai Joseph Smith dan pemulihan Injil?

Tulisan Suci Terkait: Amos 3:7; 2 Nefi 3:6–15; A&P 135; Joseph Smith 2:1–75

Catatan

  1. Cherished Experiences from the Writings of President David O. McKay, dikumpulkan oleh Clare Middlemiss, edisi revisi (1976), 16.

  2. Gospel Ideals (1953), 524.

  3. Cherished Experiences, 11–12.

  4. Gospel Ideals, 79–80; alinea diubah.

  5. Dalam Conference Report, April 1966, 58.

  6. Gospel Ideals, 80.

  7. Gospel Ideals, 85.

  8. Treasures of Life, dikumpulkan oleh Clare Middlemiss (1962), 227.

  9. “The Prophet Joseph Smith—On Doctrine and Organization,” Improvement Era, Januari 1945, 14–15; alinea diubah.

  10. “Joseph Smith—Prophet, Seer, and Revelator,” Improvement Era, Januari 1942, 55.

  11. Treasures of Life, 420.

  12. Improvement Era, Januari 1942, 13, 54.

  13. Gospel Ideals, 80–82; alinea diubah.

  14. Improvement Era, Januari 1945, 47.

  15. Pathways to Happiness, dikumpulkan oleh Llewelyn R. McKay (1957), 284–285.

  16. Treasures of Life, 376–377.

  17. In Conference Report, April 1969, 151.

  18. Gospel Ideals, 81–82.

  19. Dalam Conference Report, April 1951, 95.

  20. Dalam Conference Report, Oktober 1931, 12–13.

  21. Treasures of Life, 226–227.