Konferensi Umum
Dimeteraikan oleh Roh Kudus yang Dijanjikan
Konferensi umum Oktober 2026


12:24

Dimeteraikan oleh Roh Kudus yang Dijanjikan

(Ajaran dan Perjanjian 132:7)

Menerima tata cara imamat dan memasuki perjanjian sakral adalah langkah-langkah esensial dalam “pencarian seumur hidup” untuk menyelaraskan hati, pikiran, dan kehidupan kita dengan kehendak Allah.

Saya telah belajar sebuah pelajaran penting bertahun-tahun lalu dari Presiden Boyd K. Packer. Dia menuturkan,

“Tidak masalah apa kewarganegaraan atau rasnya, apakah pria atau wanita, tidak masalah apa pekerjaannya, tidak masalah pendidikan Anda, terlepas dari generasi di mana seseorang hidup, hidup adalah perjalanan pulang bagi kita semua, kembali ke hadirat Allah.

Tata-tata cara dan perjanjian-perjanjian menjadi kredensial kita untuk masuk ke dalam hadirat-Nya. Secara layak menerimanya adalah pencarian seumur hidup; menaatinya setelah itu adalah tantangan dari kefanaan.”

Saya berdoa agar Roh Kudus akan memberikan petunjuk dan menerangi kita masing-masing sewaktu kita mempertimbangkan pentingnya tata cara dan perjanjian sebagai kredensial rohani untuk perjalanan pulang kita kepada Bapa Surgawi.

Perumpamaan tentang Paspor

Saya mulai dengan sebuah cerita pendek. Suatu ketika seorang pria ingin mengunjungi anggota keluarga di negara yang jauh. Dia merencanakan perjalanannya, mengemasi kopernya, dan melakukan perjalanan dengan pesawat terbang ke kota di mana kerabatnya tinggal.

Pria itu dengan bersemangat keluar dari pesawat dan berjalan ke pos pemeriksaan paspor. Dia memiliki paspor yang valid yang dikeluarkan oleh instansi yang berwenang dari pemerintah negaranya. Dia menunjukkan paspornya kepada seorang pejabat perbatasan, yang memverifikasi identitas, kewarganegaraan, dan alasan mengunjungi negara itu. Tetapi pria itu tidak merawat paspornya dengan baik. Halaman informasi pribadi telah ternoda dan rusak. Dan halaman yang robek telah diperbaiki secara tidak sah dengan selotip dan lem.

Akibatnya, pejabat perbatasan menolak paspornya dan menolak untuk memberikan stempel yang diperlukan baginya untuk memasuki negara itu. Pria itu kecewa dan bingung tentang apa yang harus dia lakukan selanjutnya.

Pelajaran dari kisah ini cukup sederhana: keutuhan paspor harus dijaga dari waktu ke waktu. Memegang paspor yang sah memberikan kesempatan bagi pria tersebut untuk memasuki negara tersebut, tetapi paspor itu sendiri tidak menjamin bahwa dia benar-benar akan diizinkan memasuki negara tersebut.

Tentu saja, analogi sederhana ini memiliki keterbatasan. Tidak seperti kerusakan pada paspor fisik, kemalangan dan kesengsaraan yang kita alami bukan karena kesalahan kita sendiri tidak mengurangi janji-janji Allah kepada kita atau membatalkan perjanjian kita.

Perjanjian, Tata Cara, dan Berkat yang Dijanjikan

Bagi para murid Yesus Kristus, menerima tata cara imamat dan memasuki perjanjian sakral adalah langkah-langkah esensial dalam “pencarian seumur hidup” untuk menyelaraskan hati, pikiran, dan kehidupan kita dengan kehendak Allah.

Perjanjian adalah janji khusyuk—sebuah komitmen abadi antara Allah dan putra serta putri-Nya. Allah menetapkan persyaratan dari semua perjanjian Injil, dan anak-anak-Nya menggunakan hak pilihan moral mereka untuk belajar tentang dan menyetujui apa yang Dia minta untuk mereka lakukan.

Perjanjian diterima melalui tata cara sakral. Tata cara adalah tindakan kudus yang dilaksanakan melalui wewenang imamat yang memiliki tujuan rohani dan signifikansi kekal, serta berkaitan dengan hukum dan ketetapan Allah. Tata cara juga mengajarkan kita mengenai sifat perjanjian yang kita terima dalam kehidupan kita.

Perjanjian dan tata cara Injil Juruselamat yang dipulihkan adalah kredensial rohani yang dapat membuka lebar-lebar jendela kesempatan surgawi untuk menerima dalam kehidupan kita tujuan, arahan, dan kekuatan ilahi. Allah menjanjikan kepada putra dan putri-Nya berkat-berkat ilahi karena menghormati perjanjian-perjanjian, termasuk kepatuhan terhadap hukum-hukum dan tata-tata cara Injil Yesus Kristus. Kesetiaan yang berkesinambungan diperlukan agar kredensial itu valid dan agar berkat-berkat yang dijanjikan dapat diterima.

Roh Kudus Adalah Roh Kudus yang Dijanjikan

Roh Kudus adalah anggota ketiga dari Ke-Allah-an. Dia adalah sosok roh, bersaksi tentang segala kebenaran, dan adalah saksi serta utusan bagi Bapa dan Putra.

Roh Kudus juga dideskripsikan dalam tulisan suci sebagai Roh Kudus yang Dijanjikan yang mengesahkan atau mengukuhkan sebagai yang dapat diterima oleh Allah tindakan benar dari anak-anak-Nya. Pada akhirnya, semua tata cara dan perjanjian Injil harus dimeteraikan oleh Roh Kudus yang Dijanjikan. Sebagaimana yang Tuhan ungkapkan kepada Nabi Joseph Smith, “Segala perjanjian … yang tidak dibuat dan dimasuki dan dimeteraikan oleh Roh Kudus yang dijanjikan … adalah tanpa pemberlakuan, kuasa, atau kekuatan dalam dan setelah kebangkitan dari yang mati.”

Ketika dimeteraikan oleh Roh Kudus yang Dijanjikan, sebuah tata cara, sumpah, atau perjanjian mengikat di bumi dan di surga. Pemeteraian ini bersyarat dalam kefanaan dan dapat dibatalkan atau hilang melalui ketidaksalehan.

Menerima pemeteraian yang mengesahkan ini melalui Roh Kudus biasanya bukan peristiwa satu kali; alih-alih, itu datang seiring waktu saat kita bertobat dengan tulus dan konsisten, menghormati perjanjian kita, dan menyerahkan hati kita kepada Allah. Dengan saleh mencari berkat ini adalah “tantangan kefanaan,” sebagaimana dideskripsikan oleh Presiden Packer.

Sama seperti pria dalam kisah paspor saya membutuhkan stempel resmi di paspornya untuk memasuki negara asing, demikian pula kita masing-masing membutuhkan kesaksian yang memverifikasi dari Roh Kudus yang Dijanjikan agar kita dapat menerima berkat-berkat kekal yang berkaitan dengan perjanjian dan tata cara Injil Juruselamat.

Kita masing-masing hendaknya senantiasa bersyukur atas kesempatan sakral untuk “berjalan dalam segala tata cara Tuhan” dan untuk menerima melalui Roh Kudus yang Dijanjikan, “dalam pergerakan waktu,” meterai pengesahan yang menjamin semua berkat yang dijanjikan.

Tata Cara Pemeteraian

Pemeteraian seorang pria dan seorang wanita di rumah Tuhan adalah perjanjian dan tata cara tertinggi dari Injil Juruselamat yang dipulihkan. Yang tak kalah penting, memahami pentingnya doktrin tata cara pemeteraian yang dimeteraikan oleh Roh Kudus yang Dijanjikan membantu menyampaikan, sebagian, pertanyaan pribadi yang mendalam mengenai apakah pilihan-pilihan orang lain dapat merampas dari berkat-berkat kekal dari orang yang menepati perjanjian dengan setia.

Tata cara pemeteraian mencakup dua bagian mendasar dan terkait: (1) persatuan kekal seorang pria dan seorang wanita dalam pernikahan—apa yang dapat dipahami sebagai pemeteraian lateral—dan (2) pemeteraian suami dan istri ke dalam keluarga kekal Allah dan keterhubungan umat manusia melalui semua generasi—apa yang dapat dipahami sebagai pemeteraian vertikal. Kedua elemen tata cara ini adalah penting.

Hasil yang diinginkan dan didoakan dari pemeteraian bait suci antara seorang pria dan seorang wanita mencakup pertumbuhan rohani seumur hidup, pengabdian pernikahan, kesetiaan, bekerja bersama untuk mengatasi ketidakpastian dan tantangan kefanaan, serta kebahagiaan abadi.

Terkadang, sayangnya, hasil yang diinginkan dan didoakan tidak terjadi. Dosa, ketidaksetiaan, kemurtadan pribadi, atau kesulitan lainnya dari pasangan dapat menyebabkan perselisihan, keterasingan, dan bahkan perceraian. Dalam kasus-kasus ini, pasangan yang setia mungkin bertanya, “Dapatkah penerapan hak pilihan moral yang tidak benar oleh orang lain merampas dari saya apa yang telah Allah janjikan?” Jawaban terhadap pertanyaan ini adalah tegas tidak!

Tindakan tidak layak dari pasangan tentu saja membawa sakit hati dan kesedihan bagi pasangan lainnya dan anggota keluarga. Namun, ketidaksalehan oleh satu orang tidak dapat menghalangi atau menggagalkan aliran kasih, kekuatan, dan berkat Allah kepada orang lain. Kuasa Pendamaian Tuhan yang tak terbatas dan kekal dapat mengatasi segala hal, setiap saat, di mana pun, bagi setiap orang yang berpegang teguh pada perjanjian-perjanjian mereka dengan-Nya.

Pasangan yang melanggar perjanjian dan tidak bertobat melepaskan kesempatan untuk menerima bagi dirinya sendiri meterai pengesahan dari Roh Kudus yang Dijanjikan baik untuk aspek lateral maupun vertikal dari tata cara pemeteraian.

Pasangan setia yang menghormati perjanjian dan maju terus dalam iman tetap layak untuk menerima bagi dirinya sendiri meterai pengesahan dari Roh Kudus yang Dijanjikan untuk aspek vertikal dari tata cara pemeteraian dan untuk menerima semua berkat individu terkait lainnya.

Anda mungkin bertanya, “Bagaimana ini dapat terjadi jika pernikahan bait suci tidak bertahan?”

Doktrin Gereja Yesus Kristus dari Orang-Orang Suci Zaman Akhir yang telah diungkapkan tidak membahas semua detail dan seluk-beluk tentang kasus-kasus semacam itu. Saya tidak tahu dan tidak dapat menjelaskan dengan tepat bagaimana dan kapan berkat-berkat yang dijanjikan diterima. Tetapi saya tahu berkat-berkat yang dijanjikan akan diterima. Tidak ada murid yang setia yang pada akhirnya akan kehilangan berkat kekal apa pun yang telah Allah janjikan karena penggunaan hak pilihan moral yang tidak benar oleh individu lain.

Saya mengakhiri dengan kesaksian yang meyakinkan dari Raja Benyamin: “Aku berhasrat agar kamu hendaknya mempertimbangkan akan keadaan yang diberkati dan bahagia dari mereka yang menaati perintah-perintah Allah. Karena lihatlah, mereka diberkati dalam segala hal, baik duniawi maupun rohani; dan jika mereka bertahan setia sampai akhir mereka diterima ke dalam surga, agar dengan demikian mereka boleh berdiam bersama Allah dalam suatu keadaan kebahagiaan yang tak pernah berakhir. Ya ingatlah, ingatlah bahwa hal-hal ini adalah benar; karena Tuhan Allah telah memfirmankannya.”

Saya bersaksi dengan penuh sukacita akan kebenaran dari janji kenabian Raja Benyamin dalam nama sakral Tuhan Yesus Kristus, amin.

Catatan

  1. Boyd K. Packer, “Covenants [Perjanjian],” Ensign, Mei 1987, 24; penekanan ditambahkan.

  2. Lihat Boyd K. Packer, “Covenants,” 23.

  3. Lihat Penuntun bagi Tulisan Suci, “Tata Cara,” Perpustakaan Injil.

  4. Penuntun bagi Tulisan Suci, “Perjanjian,” Perpustakaan Injil

  5. Lihat Penuntun bagi Tulisan Suci, “Roh Kudus yang Dijanjikan,” Perpustakaan Injil.

  6. Ajaran dan Perjanjian 132:7.

  7. Lihat Musa 7:21.

  8. Boyd K. Packer, “Covenants,” 24; penekanan ditambahkan.

  9. Ajaran dan Perjanjian 136:4.

  10. Musa 7:21.

  11. Presiden Russell M. Nelson mengajarkan, “Suami dan istri membuat perjanjian dengan Allah dan dengan satu sama lain untuk loyal dan setia kepada satu sama lain. … Sama seperti pernikahan dan keluarga berbagi ikatan lateral yang unik yang menciptakan kasih khusus, begitu pula hubungan baru terbentuk ketika kita mengikat diri kita dengan perjanjian secara vertikal kepada Allah kita!” (“Perjanjian Abadi,” Liahona, Oktober 2022, 6, 9).

  12. Berkat-berkat ini dinyatakan dalam perjanjian yang diterima melalui tata cara pemeteraian pernikahan. “Sementara pemeteraian tetap berlaku, seorang anggota yang setia pada perjanjian-perjanjian bait suci akan menerima berkat-berkat pribadi yang dijanjikan di bait suci. Ini demikian halnya bahkan jika pasangan orang tersebut telah melanggar perjanjian atau menarik diri dari pernikahan. Terlebih lagi, Allah tidak akan meminta siapa pun untuk tetap berada dalam hubungan yang dimeteraikan sepanjang kekekalan bertentangan dengan kehendaknya. Bapa Surgawi akan memastikan bahwa setiap orang menerima setiap berkat yang dimungkinkan oleh hasrat dan pilihannya” (Buku Pegangan Umum: Melayani dalam Gereja Yesus Kristus dari Orang-Orang Suci Zaman Akhir, 38.4.1.10, Perpustakaan Injil).

  13. Tuhan Yesus Kristus telah memaklumkan, “Firman-Ku adalah pasti dan tidak akan gagal. … Tetapi segala hal mesti terjadi pada waktunya” (Ajaran dan Perjanjian 64:31–32).

  14. Mosia 2:41.