2010–2019
Sakramen Dapat Membantu Kita Menjadi Kudus


Sakramen Dapat Membantu Kita Menjadi Kudus

Pikirkan lima cara untuk meningkatkan dampak dan kuasa dari partisipasi reguler kita dalam tata cara sakral sakramen.

Salah satu kenangan paling awal saya adalah tentang pertemuan sakramen yang diadakan di rumah kami di Warrnambool, Australia. Antara 10 sampai 15 orang menghadiri cabang kami, dan ayah saya, salah seorang dari tiga pemegang imamat, secara reguler memiliki kesempatan untuk memberkati sakramen. Saya ingat perasaan yang saya miliki ketika dia dengan rendah hati dan cermat membacakan kata-kata dari doa sakramen. Sering kali suaranya bergetar sewaktu dia merasakan Roh. Dia terkadang harus berhenti sejenak untuk mengendalikan emosinya sebelum menyelesaikan doa itu.

Sebagai anak berusia lima tahun, saya tidak sepenuhnya memahami makna dari apa yang telah dikatakan atau dilakukan; namun, saya tahu sesuatu yang khusus sedang terjadi. Saya dapat merasakan pengaruh yang menenangkan dan meyakinkan dari Roh Kudus sewaktu ayah saya merenungkan kasih Juruselamat bagi kita.

Juruselamat mengajarkan: “Ini akan selalu kamu lakukan terhadap mereka yang bertobat dan dibaptis dalam nama-Ku; dan kamu akan melakukannya sebagai ingatan akan darah-Ku, yang telah Aku tumpahkan bagimu, agar kamu boleh bersaksi kepada Bapa bahwa kamu selalu mengingat-Ku. Dan jika kamu selalu mengingat-Ku kamu akan memiliki Roh-Ku bersamamu” (3 Nefi 18:11).

Saya mengajak kita semua memikirkan lima cara untuk meningkatkan dampak dan kuasa dari partisipasi reguler dalam tata cara sakral sakramen, sebuah tata cara yang dapat membantu kita menjadi kudus.

1. Persiapkan Diri Sebelumnya

Kita dapat memulai persiapan kita untuk sakramen jauh sebelum pertemuan sakramen dimulai. Hari Sabtu dapat menjadi waktu yang baik untuk merenungkan kemajuan dan persiapan rohani kita.

Gambar

Kefanaan adalah karunia esensial dalam perjalanan kita untuk menjadi seperti Bapa Surgawi kita. Karena diperlukan, itu menyertakan pencobaan dan tantangan yang memberi kita kesempatan untuk berubah dan bertumbuh. Raja Benyamin mengajarkan bahwa “manusia alami adalah musuh bagi Allah, … dan akan demikian, selama-lamanya, kecuali dia menyerah pada bujukan Roh Kudus, dan menanggalkan manusia alami dan menjadi orang suci melalui pendamaian Kristus Tuhan” (Mosia 3:19). Partisipasi dalam tata cara sakramen memberikan kesempatan untuk lebih sepenuhnya menyerahkan hati dan jiwa kita kepada Allah.

Dalam persiapan kita, hati kita menjadi hancur sewaktu kita mengungkapkan rasa syukur bagi Pendamaian Kristus, bertobat dari kesalahan dan kekurangan kita, serta memohon bantuan Bapa dalam melanjutkan perjalanan kita untuk menjadi lebih seperti Dia. Kita kemudian dapat menanti-nantikan kesempatan yang sakramen sediakan untuk mengingat pengurbanan-Nya dan memperbarui komitmen kita terhadap semua perjanjian yang telah kita buat.

2. Datang Lebih Awal

Pengalaman sakramen kita dapat ditingkatkan ketika kita tiba jauh sebelum pertemuan dan merenung sewaktu musik pendahuluan dimainkan.

Gambar

Presiden Boyd K. Packer mengajarkan: “Musik pendahuluan, yang dimainkan dengan khidmat, adalah pemeliharaan bagi roh. Itu mengundang ilham.”1 “Ini bukanlah waktu,” Presiden Russell M. Nelson , untuk bercakap-cakap atau mengirimkan pesan tetapi periode meditasi penuh doa sewaktu para pemimpin dan anggota bersiap secara rohani bagi sakramen.”2

3. Nyanyikan dan Belajarlah dari Lirik Nyanyian Pujian Sakramen

Nyanyian pujian sakramen adalah bagian yang secara khusus penting dari pengalaman sakramen kita. Musik meningkatkan pemikiran dan perasaan kita. Nyanyian pujian sakramen bahkan memiliki pengaruh yang lebih besar ketika kita berfokus pada syair dan ajaran penuh kuasa yang diajarkan. Kita belajar banyak dari syair seperti “Dicabik, dikoyak,”3 “Mari ingat dan pastikan, hati tangan murni nian,”4 serta “Penuh kasih yang setia, dan keserasian!”5

Gambar
Gambar

Sewaktu kita menyanyikan sebuah lagu pujian dalam persiapan untuk mengambil lambang-lambang, liriknya dapat menjadi bagian dari komitmen perjanjian kita. Pertimbangkanlah, sebagai contoh, “Kami mengasihi-Mu, Tuhan; hati kami penuh. Kami akan berjalan.” [diterjemahkan secara bebas]6

4. Secara Rohani Berpartisipai dalam Doa-Doa Sakramen (lihat Moroni 4–5)

Alih-alih meredam kata-kata yang familier dari doa sakramen, kita dapat belajar banyak dan bahkan merasakan lebih banyak lagi ketika kita berpartisipasi secara rohani dengan memikirkan komitmen serta berkat terkait yang tercakup dalam doa sakral ini.

Gambar

Roti dan air diberkati dan dikuduskan untuk jiwa kita. Itu mengingatkan kita akan pengurbanan Juruselamat dan bahwa Dia dapat membantu kita menjadi kudus.

Doa-doa menjelaskan bahwa kita mengambil roti sebagai ingatan akan tubuh Putra, yang Dia berikan sebagai tebusan agar menjadikan semua memenuhi syarat bagi kebangkitan, dan kita minum air sebagai ingatan akan darah Putra, yang Dia tumpahkan secara cuma-cuma agar kita dapat ditebus dengan syarat bertobat.

Doa-doa tersebut memperkenalkan perjanjian dengan frasa “bahwa mereka bersedia” (Moroni 4:3). Frasa sederhana ini memiliki potensi kuasa yang begitu besar bagi kita. Apakah kita bersedia untuk melayani dan berpartisipasi? Apakah kita bersedia untuk berubah? Apakah kita bersedia untuk memperbaiki kelemahan kita? Apakah kita bersedia untuk menjangkau dan memberkati orang lain? Apakah kita bersedia memercayai Juruselamat?

Sewaktu janji-janji dinyatakan dan sewaktu kita mengambil bagian, kita mengukuhkan dalam hati kita bahwa kita bersedia untuk:

  • Mengambil ke atas diri kita nama Yesus Kristus.

  • Berusaha untuk menaati semua perintah-Nya.

  • Selalu mengingat Dia.

Doa diakhiri dengan ajakan dan janji luhur: “Agar mereka boleh selalu memiliki Roh-Nya bersama mereka” (Moroni 4:3).

Paulus menuliskan, “Buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, [dan] penguasaan diri” (Galatia 5:22–23). Berkat dan karunia indah tersedia bagi kita sewaktu kita menepati perjanjian-perjanjian kita.

5. Renungkan dan Ingatlah Dia Sewaktu Lambang-Lambang Sakramen Diedarkan

Momen khidmat ketika para pemegang imamat mengedarkan sakramen dapat menjadi sakral bagi kita.

Gambar

Sewaktu roti diedarkan, kita dapat merenungkan bahwa dalam tindakan kasih tertinggi bagi kita, Juruselamat mengambil “ke atas diri-Nya kematian, agar Dia boleh melepaskan ikatan kematian yang mengikat umat-Nya” (Alma 7:12).

Kita mungkin ingat berkat mulia dari Kebangkitan yang “akan datang kepada semua orang, … baik terikat maupun bebas, baik laki-laki maupun perempuan, baik yang jahat maupun yang saleh; dan bahkan tidak akan ada meski sehelai rambut pun di kepala mereka yang hilang; tetapi segala sesuatu akan dipulihkan pada raganya yang sempurna” (Alma 11:44)

Gambar

Sewaktu air diedarkan, kita dapat mengingat permohonan Juruselamat:

“Karena lihatlah, Aku, Allah, telah menderita hal-hal ini bagi semua orang, agar mereka boleh tidak menderita jika mereka akan bertobat; …

Yang penderitaan itu menyebabkan diri-Ku, bahkan Allah, yang terbesar dari semuanya, gemetar karena rasa sakit, dan berdarah pada setiap pori, dan menderita baik tubuh maupun roh dan menghendaki bahwa Aku boleh tidak meminum cawan yang pahit, dan menciut” (A&P 19:16, 18).

Kita mengingat bahwa Dia mengambil “ke atas diri-Nya kelemahan [kita], agar sanubari-Nya boleh dipenuhi dengan belas kasihan, secara daging, agar Dia boleh mengetahui secara daging bagaimana menyokong umat-Nya menurut kelemahan mereka” (Alma 7:12).

Sewaktu kita memikirkan pengalaman sakramen kita, kita dapat bertanya kepada diri kita sendiri:

  • Apa yang akan saya lakukan minggu ini untuk bersiap dengan lebih baik bagi sakramen?

  • Dapatkah saya berkontribusi lebih banyak pada kekhidmatan dan wahyu yang dapat menyertai permulaan dari pertemuan sakramen?

  • Apa ajaran yang diajarkan dalam nyanyian pujian sakramen?

  • Apa yang saya dengar dan rasakan sewaktu saya mendengarkan doa-doa sakramen?

  • Apa yang saya pikirkan sewaktu sakramen diedarkan?

Penatua David A. Bednar mengajarkan: “Tata cara sakramen adalah undangan yang kudus dan diulang untuk bertobat secara tulus dan untuk diperbarui secara rohani. Tindakan mengambil sakramen, dalam dan darinya sendiri, tidak mengampuni dosa-dosa. Tetapi sewaktu kita bersiap dengan sungguh-sungguh dan berperan serta dalam tata cara kudus ini dengan hati yang hancur dan roh yang menyesal, maka janjinya adalah bahwa kita dapat selalu memiliki Roh Tuhan bersama kita. Dan dengan kuasa menguduskan dari Roh Kudus sebagai rekan yang terus-menerus, kita dapat selalu mempertahankan pengampunan akan dosa-dosa kita.”7

Saya bersaksi akan banyaknya berkat yang tersedia bagi kita sewaktu kita meningkatkan persiapan dan partisipasi rohani kita dalam tata cara sakramen. Saya lebih jauh bersaksi bahwa berkat-berkat ini tersedia bagi kita karena kasih Bapa kita di Surga dan kurban tebusan tak terbatas dari Putra Terkasih-Nya, Yesus Kristus. Dalam nama sakral-Nya, yaitu Yesus Kristus,

Catatan

  1. Boyd K. Packer, “Personal Revelation: The Gift, the Test, and the Promise,” Ensign, November 1994, 61.

  2. Russell M. Nelson, “Worshiping at Sacrament Meeting,” Liahona, Agustus 2004, 13.

  3. “Jesus of Nazareth, Savior and King,” Hymns, no. 181.

  4. “Mengambil Lambang Bersama,” Nyanyian Rohani, no. 73.

  5. “Betapa Bijak Pengasih,” Nyanyian Rohani, no. 81.

  6. “As Now We Take the Sacrament,” Hymns, no. 169.

  7. David A. Bednar, “Selalu Mempertahankan Pengampunan Atas Dosa-Dosamu,” Liahona, Mei 2016, 61–62.