Konferensi Umum
Membela Konstitusi Kita yang Terilhami Secara Ilahi
sebelumnya berikutnya

Membela Konstitusi Kita yang Terilhami Secara Ilahi

Kepercayaan kita terhadap ilham ilahi memberi Orang Suci Zaman Akhir tanggung jawab unik untuk menjunjung tinggi dan membela Konstitusi Amerika Serikat serta asas-asas konstitusional.

Di masa sulit ini, saya merasa perlu berbicara tentang Konstitusi Amerika Serikat yang terilhami. Konstitusi ini khususnya penting bagi anggota kita di Amerika Serikat, tetapi itu juga adalah pusaka bersama dari konstitusi-konstitusi di seluruh dunia.

I.

Sebuah konstitusi adalah landasan pemerintahan. Itu memberikan struktur dan batasan untuk penggunaan kuasa pemerintahan. Konstitusi Amerika Serikat adalah konstitusi tertulis tertua yang masih berlaku saat ini. Meskipun awalnya hanya diterima oleh beberapa koloni saja, itu segera menjadi model bagi seluruh dunia. Dewasa ini, setiap negara kecuali tiga telah memiliki konstitusi tertulis.1

Dalam ceramah ini saya tidak berbicara untuk partai politik atau kelompok lain mana pun. Saya berbicara untuk Konstitusi Amerika Serikat, yang telah saya telaah selama lebih dari 60 tahun. Saya berbicara dari pengalaman saya sebagai juru tulis hukum bagi ketua Mahkamah Agung Amerika Serikat. Saya berbicara dari 15 tahun saya sebagai profesor hukum dan 3½ tahun saya sebagai hakim di Mahkamah Agung Utah. Yang terpenting, saya berbicara dari 37 tahun sebagai Rasul Yesus Kristus, bertanggung jawab untuk menelaah arti dari Konstitusi Amerika Serikat yang terilhami secara ilahi bagi pekerjaan Gereja-Nya yang telah dipulihkan.

Konstitusi Amerika Serikat adalah unik karena Allah mewahyukan bahwa telah Dia “tegakkan” itu “untuk hak dan perlindungan dari semua daging” (Ajaran dan Perjanjian 101:77; lihat juga ayat 80). Itu sebabnya konstitusi ini menjadi perhatian khusus bagi Gereja Yesus Kristus dari Orang-Orang Suci Zaman Akhir di seluruh dunia. Apakah atau bagaimana asas-asasnya hendaknya diterapkan di negara lain di dunia harus mereka putuskan sendiri.

Apa tujuan Allah dalam menegakkan Konstitusi Amerika Serikat? Kita melihatnya dalam doktrin hak pilihan moral. Dalam dekade pertama Gereja yang dipulihkan, para anggotanya di bagian barat menderita penganiayaan secara tertutup maupun terbuka. Sebagian ini adalah karena penentangan mereka terhadap perbudakan manusia yang ketika itu ada di Amerika Serikat. Dalam keadaan yang patut disesali ini, Allah mengungkapkan melalui Nabi Joseph Smith kebenaran-kebenaran kekal mengenai doktrin-Nya.

Allah telah memberi anak-anak-Nya hak pilihan moral—kuasa untuk memutuskan dan untuk bertindak. Keadaan yang paling dihasratkan bagi penggunaan hak pilihan itu adalah kebebasan maksimum bagi pria dan wanita untuk bertindak sesuai dengan pilihan individunya. Lalu, wahyu tersebut menjelaskan, “setiap orang boleh bertanggung jawab atas dosa-dosanya sendiri pada hari penghakiman” (Ajaran dan Perjanjian 101:78). “Oleh karena itu,” Tuhan mengungkapkan, “tidaklah benar bahwa siapa pun akan saling berada dalam perbudakan” (Ajaran dan Perjanjian 101:79). Ini jelas berarti bahwa perbudakan manusia adalah salah. Dan menurut asas yang sama, adalah salah bagi warga negara untuk tidak memiliki suara dalam pemilihan penguasa mereka atau pembuatan hukum mereka.

II.

Kepercayaan kita bahwa Konstitusi Amerika Serikat terilhami secara ilahi bukanlah berarti bahwa wahyu ilahi mendiktekan setiap kata dan frasa, seperti ketetapan yang mengalokasikan jumlah perwakilan dari setiap negara bagian atau usia minimum mereka masing-masing.2 Konstitusi bukanlah “suatu dokumen yang sepenuhnya matang,” kata Presiden J. Reuben Clark. “Sebaliknya,” dia menjelaskan, “kita percaya itu harus bertumbuh dan berkembang untuk memenuhi kebutuhan yang berubah dari dunia yang terus maju.”3 Misalnya, amendemen terilhami telah melarang perbudakan dan memberi wanita hak untuk memberikan suara. Bagaimana pun, kita tidak melihat ilham dalam setiap keputusan Mahkamah Agung yang menafsirkan Konstitusi.

Saya percaya Konstitusi Amerika Serikat memuat setidaknya lima asas yang terilhami secara ilahi.4

Pertama adalah asas bahwa sumber kekuatan pemerintah adalah rakyat. Pada saat ketika kuasa kedaulatan secara universal diasumsikan berasal dari hak ilahi para raja atau dari kekuatan militer, memberikan kuasa kedaulatan kepada rakyat adalah revolusioner. Para filsuf menganjurkan ini, tetapi Konstitusi Amerika Serikat adalah yang pertama menerapkannya. Kuasa kedaulatan dalam diri rakyat tidak berarti bahwa gerombolan perusuh atau kelompok orang lainnya dapat mengintervensi untuk mengintimidasi atau memaksakan tindakan pemerintah. Konstitusi menegakkan sebuah republik demokratis konstitusional, di mana rakyat menggunakan kuasa mereka melalui para wakil yang mereka pilih.

Asas terilhami yang kedua adalah pembagian kuasa yang didelegasikan antara negara dan negara bagian di bawahnya. Dalam sistem federal kita, asas yang belum pernah ada sebelumnya ini terkadang telah diubah oleh amendemen terilhami, seperti yang menghapuskan perbudakan dan memperluas hak memberikan suara kepada wanita, yang disebutkan sebelumnya. Secara signifikan, Konstitusi Amerika Serikat membatasi pemerintahan nasional terhadap kuasa berlebihan yang diberikan secara tegas atau melalui implikasi, dan itu mencadangkan semua kuasa pemerintahan lainnya “kepada Negara Bagian masing-masing atau kepada rakyat.”5

Asas terilhami lainnya adalah pemisahan kekuasaan. Lebih dari satu abad sebelum Konvensi Konstitusional tahun 1787, Parlemen Inggris memelopori pembagian wewenang legislatif dan eksekutif ketika mereka merebut kekuasaan tertentu dari raja. Ilham dalam konvensi Amerika adalah mendelegasikan kuasa eksekutif, legislatif, dan yudisial yang independen agar ketiga cabang ini dapat saling mengawasi.

Asas terilhami keempat adalah gugusan jaminan vital akan hak individu dan pembatasan spesifik pada wewenang pemerintah dalam Deklarasi Hak-Hak, yang diterima melalui amendemen hanya tiga tahun setelah Konstitusi diberlakukan. Deklarasi Hak-Hak bukanlah baru. Di sini ilhamnya adalah dalam implementasi praktis dari asas-asas yang dipelopori di Inggris, dimulai dengan Magna Carta. Para penulis Konstitusi familier dengan ini karena sejumlah piagam koloni memiliki jaminan semacam itu.

Tanpa Deklarasi Hak-Hak, Amerika tidak dapat menjadi negara tuan rumah untuk Pemulihan Injil, yang dimulai hanya tiga dekade sesudahnya. Ada ilham ilahi dalam ketetapan asli bahwa tidak boleh ada ujian keagamaan untuk jabatan publik,6 tetapi penambahan jaminan kebebasan beragama dan anti kekuasaan mutlak di Amendemen Pertama adalah vital. Kita juga melihat ilham ilahi dalam kebebasan berpendapat dan pers di Amendemen Pertama dan dalam perlindungan pribadi dalam amendemen-amendemen lainnya, seperti untuk tuntutan pidana.

Kelima dan terakhir, saya melihat ilham ilahi dalam tujuan vital dari keseluruhan Konstitusi. Kita harus diatur oleh hukum dan bukan oleh individu, dan loyalitas kita adalah pada Konstitusi beserta asas dan prosesnya, bukan kepada pemegang jabatan mana pun. Dengan cara ini, semua orang adalah setara di hadapan hukum. Asas-asas ini memblokir ambisi autokrasi yang telah mencemari demokrasi di sejumlah negara. Itu juga berarti bahwa tidak satu pun dari ketiga cabang pemerintahan yang hendaknya dominan di atas yang lain atau mencegah yang lain dari melakukan fungsi konstitusionalnya secara patut untuk saling mengawasi.

III.

Terlepas dari asas-asas terilhami secara ilahi dari Konstitusi Amerika Serikat, sewaktu dijalankan oleh makhluk fana yang tidak sempurna, dampak yang dihasratkan tidak selalu dicapai. Subjek penting pembuatan hukum, seperti beberapa peraturan yang mengatur hubungan keluarga, telah diambil dari negara bagian oleh pemerintahan federal. Jaminan Amendemen Pertama akan kebebasan berpendapat terkadang telah dikurangi oleh penekanan terhadap pendapat yang tidak populer. Asas pemisahan kekuasaan selamanya berada di bawah tekanan dengan pasang surutnya satu cabang pemerintahan yang menggunakan atau menghalangi kekuasaan yang didelegasikan kepada yang lain.

Ada ancaman lainnya yang merusak asas-asas terilhami dari Konstitusi Amerika Serikat. Tegaknya Konstitusi dikurangi oleh upaya untuk menggantikan kecenderungan sosial terkini sebagai alasan untuk pendiriannya, alih-alih kebebasan dan pengaturan diri. Wewenang Konstitusi diremehkan ketika kandidat atau pejabat mengabaikan asas-asasnya. Martabat dan kekuatan Konstitusi dikurangi oleh mereka yang merujuk padanya seperti suatu ujian loyalitas atau slogan politik, alih-alih karena statusnya yang agung sebagai sumber otorisasi dan pembatasan bagi wewenang pemerintahan.

IV.

Kepercayaan kita terhadap ilham ilahi memberi Orang Suci Zaman Akhir tanggung jawab unik untuk menjunjung tinggi dan membela Konstitusi Amerika Serikat serta asas-asas konstitusional di mana pun kita tinggal. Kita hendaknya percaya kepada Tuhan dan bersikap positif mengenai masa depan negara ini.

Apa lagi yang harus Orang Suci Zaman Akhir yang setia lakukan? Kita juga harus berdoa agar Tuhan menuntun dan memberkati semua bangsa dan para pemimpin mereka. Ini adalah bagian dari pasal-pasal kepercayaan kita. Tunduk kepada presiden atau penguasa7 tentunya tidak menjadi penghalang bagi upaya kita menentang hukum atau kebijakan individual. Itu memang menuntut agar kita hendaknya menggunakan pengaruh kita secara santun dan damai, dalam kerangka konstitusi dan hukum kita yang berlaku. Dalam isu-isu yang diperdebatkan, kita hendaknya berupaya untuk menengahi dan mempersatukan.

Ada tugas-tugas lain yang merupakan bagian dari menjunjung tinggi Konstitusi yang terilhami. Kita hendaknya mempelajari dan mendukung asas-asas terilhami dari Konstitusi. Kita hendaknya mencari dan mendukung orang bijak dan baik yang akan mendukung asas-asas itu dalam tindakan publik mereka.8 Kita hendaknya menjadi warga negara yang terinformasi yang aktif dalam membuat pengaruh kita dirasakan dalam urusan-urusan sipil.

Di Amerika Serikat dan demokrasi lainnya, pengaruh politik dijalankan dengan mencalonkan diri untuk jabatan (yang kami dorong), dengan memberi suara, dengan dukungan finansial, dengan keanggotaan dan pelayanan dalam partai politik, dan dengan komunikasi berkelanjutan kepada pejabat, partai, dan kandidat. Agar berfungsi dengan baik, demokrasi membutuhkan semua ini, tetapi warga negara yang bertanggung jawab tidak perlu memberikan semuanya.

Ada banyak isu politik, dan tidak ada partai, platform, dan kandidat individu yang dapat memuaskan semua preferensi pribadi. Setiap warga negara karenanya harus memutuskan isu mana yang paling penting baginya pada waktu tertentu. Kemudian anggota hendaknya mencari ilham mengenai cara menggunakan pengaruh mereka menurut prioritas individu mereka. Proses ini tidak akan mudah. Itu mungkin membutuhkan mengubah dukungan partai atau pilihan kandidat, bahkan dari pemilihan ke pemilihan.

Tindakan independen semacam itu terkadang akan mengharuskan pemilih mendukung kandidat atau partai politik atau platform yang posisi lain darinya tidak dapat mereka setujui.9 Itulah satu alasan kita mendorong para anggota kita untuk menahan diri dari saling menghakimi dalam masalah politik. Kita hendaknya tidak pernah memaksakan bahwa Orang Suci Zaman Akhir yang setia tidak dapat menjadi bagian dari partai tertentu atau memberikan suara untuk kandidat tertentu. Kita mengajarkan asas-asas yang benar dan membiarkan anggota kita memilih cara memprioritaskan dan menerapkan asas-asas itu pada isu-isu yang muncul dari waktu ke waktu. Kita juga bersikeras, dan kita meminta para pemimpin lokal kita untuk bersikeras, agar pilihan dan afiliasi politik tidak menjadi pokok pengajaran atau pendukungan dalam pertemuan apa pun di Gereja kita.

Gereja Yesus Kristus dari Orang-Orang Suci Zaman Akhir akan, tentunya, menggunakan haknya untuk menyetujui atau menentang proposal legislatif tertentu yang kami yakini akan berdampak terhadap kebebasan beragama atau kepentingan esensial organisasi Gereja.

Saya bersaksi akan Konstitusi Amerika Serikat yang terilhami secara ilahi dan berdoa agar kita yang mengakui Makhluk Ilahi yang mengilhaminya akan selamanya menjunjung tinggi dan membela asas-asasnya yang agung. Dalam nama Yesus Kristus, amin.

Catatan

  1. Lihat Mark Tushnet, “Constitution,” dalam Michel Rosenfeld dan András Sajó, editor, The Oxford Handbook of Comparative Constitutional Law (2012), 222. Tiga negara dengan konstitusi tersusun yang tidak tertulis adalah Kerajaan Inggris, Selandia Baru dan Israel. Masing-masing darinya memiliki tradisi konstitusi yang kuat, meski ketentuan-ketentuan yang mengatur tidak dikumpulkan dalam satu dokumen tunggal.

  2. Lihat United States Constitution [Konstitusi Amerika Serikat], artikel 1, bagian 2.

  3. J. Reuben Clark Jr., “Constitutional Government: Our Birthright Threatened,” Vital Speeches of the Day, 1 Januari 1939, 177, dikutip dalam Martin B. Hickman,“J. Reuben Clark, Jr.: The Constitution and the Great Fundamentals,” dalam Ray C. Hillam, editor, By the Hands of Wise Men: Essays on the U.S. Constitution (1979), 53. Brigham Young memiliki pandangan pengembangan serupa mengenai Konstitusi, mengajarkan bahwa para perancangnya “meletakkan landasannya, dan adalah tugas generasi sesudahnya untuk membangun struktur hebat di atasnya” (Discourses of Brigham Young, seleksi John A. Widtsoe [1954], 359).

  4. Kelima hal ini serupa tetapi tidak identik dengan yang disarankan dalam J. Reuben Clark Jr., Stand Fast by Our Constitution (1973), 7; Ezra Taft Benson, “Our Divine Constitution,” Ensign, November 1987, 4–7; dan Ezra Taft Benson, “The Constitution—A Glorious Standard,” Ensign, September 1987, 6–11. Lihat, secara umum, Noel B. Reynolds, “The Doctrine of an Inspired Constitution,” dalam By the Hands of Wise Men, 1–28.

  5. United States Constitution [Konstitusi Amerika Serikat], amendemen 10.

  6. Lihat United States Constitution [Konstitusi Amerika Serikat], artikel 6.

  7. Lihat Pasal-Pasal Kepercayaan 1:12.

  8. Lihat Ajaran dan Perjanjian 98:10.

  9. Lihat David B. Magleby, “The Necessity of Political Parties and the Importance of Compromise,” BYU Studies, volume 54, nomor 4 (2015), 7–23.